0 komentar

Respon Terhadap Kekeliruan Pendeta Gereja Baptist Independent 2

Ini adalah lanjutan dari artikel pertama yang membahas tentang kekeliruan seorang Pendeta gereja Baptist independent yang menyerang pemahamannya menyerang Gereja Katolik
5. Sehingga menyebabkan ibu-ibu beramai-ramai membawa bayinya untuk dibaptis dan karena bayi tidak bisa diselam maka timbulah cara percik. Tertulian (185 AD.) tercatat orang yang paling awal menentang baptisan bayi.
Tanggapan:
Saya akan membagi menjadi 3 point tanggapan saya:

1.Ketika Paulus membaptis 3 orang didalam Kis 2:41 tecatat bahwa anggota Gereja bertambah 3.000 orang pada Pentakosta. Coba bayangkan berapa banyak waktu dan air yang diperlukan unutk mencelup orang sebanyak itu. Para arkeolog telah membuktikan bahwa tidak ada persediaan air di sekitar Yerusalem untuk mencelup 3.000 orang. Seandainya pun ada, kecil kemungkinan penduduk asli Yerusalem bersedia merelakan cadangan air mereka yang berharga untuk mencelup tubuh 3.000 orang lengkap dengan debu dan kotoran tubuh mereka. Kemungkinan besar mereka dibaptis dengan percik (atau curah)

2Pembaptisan Paulus, Pada Kis 9:18, diceritakan bahwa setelah dapat melihat, Paulus berdiri dan dibaptis. Paulus tidak diceritakan keluar rumah, mencari sungai lalu dicelup

3. Keadaan yang tidak memungkinkan, sekarang cobalah berpikir bagaimana bila seorang Kristen dihadapkan pada seseorang yang ingin dibaptis tetapi orang tersebut berada di gurun Sahara atau di Kutub Utara? Mungkin ilustrasi yang lebih mengena, misalkan seseorang yang terbaring tak berdaya di saat terakhir hidupnya memutuskan untuk mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dan ingin dibaptis. Bayangkan pula situasi penjara atau ruangan bawah tanah sementara penganiayaan terhadap Gereja berlangsung. Sebuah tragedi akan terjadi bila pembaptisan ditolak hanya karena tidak terdapat cukup air untuk mencelup tubuh bagian atas. Pada situasi ini, metode baptis yang tepat tentunya percik atau curah. Beberapa denominasi Protestan yang bersikukuh akan baptis selam rupanya juga berpandangan bahwa pembaptisan bukanlah syarat pertama seseorang unutk dipersatukan ke Tubuh Mistik Yesus sehingga dalam keadaan sulit seperti di atas, pembaptisan dapat dikesampingkan, yang penting orang tersebut mengakui dengan hatinya. Hal ini ditolak oleh Gereja Katolik.

Baptisan pada Gereja Perdana

Didache, sebuah karya mengenai Gereja Perdana, tidak termasuk kanon Kitab Suci meski demikian menghadirkan bukti sejarah penting mengenai kebiasaan Gereja Perdana. Didache ditulis sekitar tahun 70 M, saat para Rasul masih hidup sehingga dapat dipercaya kebenarannya. Didache mencatat:
"Concerning baptism, baptize in this manner: Having said all these things beforehand, baptize in the name of the Father and of the Son and of the Holy Spirit in living water [that is, in running water, as in a river]. If there is no living water, baptize in other water; and, if you are not able to use cold water, use warm. If you have neither, pour water three times upon the head in the name of the Father, Son, and Holy Spirit."
Bukti arkeologis

Sebuah mosaik di katakombe melukiskan seseorang menerima baptisan dengan curah meski saat itu dia sedang berdiri di sungai. Masuk dan keluar dari air tidak bearti seseorang diselam. Baptis curah tetap dapat dilakukan di sungai dan nampaknya ini adalah praktik Gereja Perdana. 

Baptism, Katakombe St.Calistus, Roma
Hal-hal di atas mementahkan klaim beberapa denominasi Protestan bahwa baptis haruslah selam. Metode baptis ada tiga yaitu selam, curah dan percik. Ketiganya adalah sah. Kesimpulan lain yang harus dipegang adalah Sakramen Baptis adalah keharusan bagi keselamatan manusia.

Terakhir kita bisa melihat apa yang bapa-bapa Gereja katakan soal pembaptisan:

St. Hipolitus dari Roma dalam tulisan Tradisi Para Rasul yang ditulis pada tahun 215 M mengatakan, “Anak-anak haruslah dibaptis pertama kali. Semua anak yang dapat menanggapi [pembaptisan] untuk dirinya sendiri, hendaklah mereka menanggapinya. Bila ada anak-anak yang tidak dapat menanggapi [pembaptisan] untuk dirinya sendiri, hendaklah orang tua mereka menanggapinya untuk mereka, atau seseorang lain dari keluarga mereka.


6. Praktek lain mengenai baptisan juga dilakukan pada orang yang sakit (baptisan klinis) adalah hal yang lazim karena mereka menganggap baptisan dapat menyembuhkan. Kesalahan demi kesalahan bermunculan sampai pada praktek perjamuan kudus. Sesuai dengan namanya perjamuan yang menguduskan berarti orang yang mengikutinya akan dikuduskan oleh skramen ini. Sehingga gereja penuh dengan orang-orang yang datang hanya karena ingin dikuduskan oleh perjamuan ini, bukan karena ingin bertobat dan percaya pada Kristus.
Tanggapan: Memang baptisan dapat menyembuhkan namun baptisan jarang sekali digunakan pada orang sakit biasanya orang sakit di berikan Sakramen pengurapan kecuali pada saat seseorang yang dalam keadaan sakratul maut mengakui yesus sebagai sang Juruselamat itu masih bisa dibenarkan.
7. Pemujaan terhadap Maria, konsep kesucian maria (Immaculate Conception), patung-patung berhala, kesempurnaan Paus yang tidak mungkin salah sebagai wakil Kristus, berkembang menjadi sebuah dogma dan kebenaran absolut.

Tanggapan: Lagi-lagi gereja denominasi maupun tidak, mengatakan Gereja Katolik melakukan pemujaan terhadap Maria, Gereja Katolik tidak pernah sekali kali pun menyembah Maria. Penyembahan terhadap Bunda Maria ini diajarkan oleh Bidat Collyriadianisme yanghadir pada sekitar tahun 350-450 di wilayah Arabia (tentang immaculate conception saya sudah pernah membahasnya anda dapat melihatnya disini).
8.Ketika agama bersatu dengan negara pasti terjadi penganiayaan agama minoritas. Ini juga yang dilakukan bapak-bapak reformator menggabungkan gereja mereka dengan negara. Martin Luther 1517 memprotes katolik dan keluar dari katolik dan pergi ke Jerman dan mendirikan gereja negara. John Calvin dan Zwingli mendirikan gereja negara di Swiss. Tercatat dalam sejarah para bapak reformator juga menganiaya, menindas orang-orang yang tidak setuju dengan mereka.Baik Katolik maupun kaum Protestan sama-sama melakukan kesalahan yaitu menganiaya setiap orang yang tidak setuju dengan mereka. Begitu juga praktek dalam gereja menggenai baptisan, perjamuan kudus, tidak banyak perbedaan dengan Katolik. Lalu masih adakah jemaat Kristus bertahan sampai zaman ini ?Ingatlah! Janji Tuhan Yesus pada orang percaya:“KepadaKu telah diberikan segala kuasa di Surga dan di Bumi, karena itu pergilah jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilahAku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.” Mat 28:18-20
Tanggapan: Kesimpulan yang terlalu jauh, terlihat sekali Pendeta ini terkesan menyerang Gereja Katolik

Kesimpulan: Tidak aneh jika banyak sekali umat protestan atau dari denominasi yang lain yang sering sekali menyerang Gereja Katolik. Padahal faktanya mereka salah pemahaman terhadap Gereja Katolik misalnya dengan pendeta yang satu ini saya yakin banyak sekali umat di gerejanya yang menyindir kesalahan Gereja Katolik. Padahal Gereja Katolik jelas-jelas tidak punya kesalahan sebab Gereja Katolik didirikan oleh Kristus sendiri. saya sih hanya menandakan diri saya dengan tanda salib melihat tabiat pembohong pendeta ini. Semoga dia sadar dengan kesalahannya.


Sekian pembelaan dari saya.

Dominus Illuminatio Mea
 
Toggle Footer
Top