0 komentar

Bulla Unam Sanctam

+Yang Tersuci Paus Bonifasius tanggal 18 November 1382+

Berdasarkan iman kami berkewajiban untuk percaya dan menegaskan bahwa Gereja adalah satu kudus, katolik, dan apostolik. Kami percaya akan Gereja dengan teguh dan kami mengakui dengan segala kesederhanaan bahwa di luar Gereja tidak ada keselamatan atau pengampunan dosa, seperti pengantin pria dalam Kidung Agung menyatakan: “ Tetapi dialah satu-satunya merpatiku, idam-idamanku, satu-satunya anak ibunya, anak kesayangan bagi yang melahirkannya (Kid 6:9)”. Dan dia menghadirkan satu Tubuh Mistik Kristus yang tunggal, dimana Kristus adalah kepalanya dan Kristus sang kepala adalah Allah (1 Kor 11:3). Dalam dia selanjutnya hanya ada satu Tuhan, satu iman, dan satu Baptisan (Ef 4:5). Karena pada saat air bah hanya ada satu bahtera Nuh, yang melambangkan satu Gereja, dimana bahtera itu, setelah selesai menjadi satu kapal, hanya memiliki satu nahkoda dan pemandu, yaitu Nuh, dan kita membaca bahwa, diluar bahtera ini, seluruh isi bumi telah dihancurkan. 

Kami menghormati Gereja ini sebagai satu, karena Tuhan telah berkata melalui mulut Nabi-Nya: “Lepaskanlah aku dari pedang, dan nyawaku dari cengkeraman anjing (Mzm 22: 21).” Dia berdoa bagi jiwa-Nya, yaitu untuk diri-Nya sendiri, hati-Nya dan tubuh-Nya; dan yang dimaksud tubuh ini ialah Gereja. Dia telah menyebutnya satu karena kesatuan Pengantinnya dalam iman, Sakramen dan cintakasih dalam Gereja. Inilah jubah Tuhan, jubah yang tak berjahit, yang tak dicabik tapi diundi (Yoh 19: 23-24). Jadi hanya ada satu Gereja yang tunggal karena hanya ada satu kepala dan satu tubuh, bukan dua kepala seperti monster; yaitu Kristus dan Wakil Kristus, Petrus dan pengganti Petrus, karena Tuhan sendiri berkata kepada Petrus: “Gembalakanlah domba-domba-Ku (Yoh 21:17).”, berarti domba-Ku secara umum, bukan mereka secara khusus, sehingga kita dapat mengerti bahwa semua telah dipercayakan-Nya kepada Petrus. Jadi jika orang-orang Yunani itu atau siapapun yang merasa bahwa mereka tidak terikat kepada Petrus dan pengganti-penggantinya, maka mereka juga harus mengaku bahwa mereka bukanlah domba Kristus, karena Tuhan kita berkata dalam Injil Yohanes, “hanya ada satu kawanan dan satu gembala (Yoh 10:16).” Kita telah diberitahu juga oleh teks Injil bahwa Gereja dalam kekuasaannya memiliki dua pedang; yaitu kekuasaan rohani dan duniawi. Ketika Rasul berkata: “Tuhan, ini dua pedang (Luk 22:38)” maka itu dimaksudkan bahwa dalam Gereja juga selalu ada dua pedang itu, dan Tuhan kita tidak mengatakan bahwa dua pedang itu terlalu banyak melainkan bahwa dua pedang itu cukup. Jadi siapapun yang menyangkal bahwa pedang kekuasaan duniawi ada dalam diri Petrus maka dia tidak mendengarkan dengan baik Firman Tuhan yang mengatakan: “Masukkan pedang itu ke dalam sarungnya (Mat 26:52).” Sebab, biarpun kedua pedang itu milik Gereja, yaitu pedang rohani dan duniawi, tapi yang pertama dilayani dalam Gereja dan yang kedua melalui Gereja; yang pertama ada di tangan para Imam dan yang kedua ada di tangan Raja dan Ksatria, tetapi oleh kehendak dan pengorbanan para Imam. Bagaimanapun, satu pedang harus tunduk kepada yang lain dan kekuasaan duniawi harus tunduk kepada kekuasaan rohani. Karena Rasul berkata: “Tidak ada pemerintahan yang tidak berasal dari AlLah, dan pemerintah-pemerintah yang ada ditetapkan oleh Allah (Rom 13:1-2)”, tapi mereka tidak akan diadakan jika satu pedang itu tidak ditundukkan keapda yang lain dan jika yang lebih rendah tidak dipimpin oleh yang lebih tinggi. 

Karena menurut Dionisius yang terberkati, adalah hukum Illahi bahwa yang terendah hanya dapat mencapai yang tertinggi melalui pengantaraan. Begitu juga menurut hukum alam, semua benda tidak diatur secara sama dan langsung, tetapi yang terendah oleh pengantaraan, dan bawahan oleh atasan. Jadi harus diakui dengan jelas bahwa kekuasaan rohani adalah lebih tinggi dalam derajat dan kelas daripada kekuasaan duniawi manapun, seperti juga hal-hal rohani melampaui yang duniawi. Ini dapat kita lihat dengan jelas tidak hanya dari persembahan, pemberkatan, dan pengudusan perpuluhan, tetapi juga dapat dilihat dari kekuasaan itu sendiri dan oleh pengaturan atas benda-benda. Karena itu dengan kebenaran sebagai saksi kami, kami menyatakan bahwa adalah milik dari kekuasaan rohani untuk mendirikan kekuasaan duniawi dan untuk menjatuhkan penghakiman bahwa kekuasaan duniawi itu telah menyimpang. Juga sebagai pemenuhan nubuat dari Nabi Yeremia mengenai Gereja dan kekuasaan Gerejani: ”Hari ini aku akan mengangkat engkau diatas bangsa-bangsa dan atas kerajaan-kerajaan (Yer 1:10)” dan seterusnya. Jadi, jika kekuasan duniawi berada dalam kesalahan, ia akan dihakimi oleh kekuasaan rohani diatasnya: dan jika kekuasaan rohani yang rendah berada dalam kesalahan, ia akan dihakimi oleh kekuasaan rohani diatasnya; tapi jika kekuasaan tertinggi diatas segalanya ada dalam kesalahan, maka ia hanya akan dihakimi oleh Allah dan bukan oleh manusia, sebab menurut kesaksian Rasul: “manusia rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain (1 Kor 2: 15). Kekuasaan ini, bagaimanapun juga, walaupun ia diberikan kepada manusia dan dijanlankan oleh manusia, tidak manusiawi tapi terutama illahi, diberikan kepada Petrus oleh Firman Illahi dan diteguhkan kembali olehnya dan pengganti-penggantinya karena Tuhan yang diakui oleh Petrus, Tuhan itu jugalah yang berkata kepada Petrus, “ Apapun yang kau ikat didunia ini, akan terikat di surga, dst (Mat 16:19)”. Dan siapapun yang melawan kekuasaan ini, yang diadakan oleh Allah, telah menentang ketetapan Allah (Rom 13: 2), kecuali jika dia mengarang ajaran tentang dua asal mula seperti Manicheus, yang telah kami hakimi sebagai bidaah dan sesat, sebab menurut pengakuan Musa tidak ada permulaan-permulaan tapi hanya ada satu permulaan yaitu Allah yang menciptakan langit dan bumi (Kej 1:1). Selanjutnya, kami menyatakan, kami mewartakan, dan kami mendefinisikan bahwa adalah sangat perlu bagi semua orang untuk keselamatan mereka, tunduk kepada kekuasaan Paus Roma.  

sumber:Ekaristi.org
 
Toggle Footer
Top